Datangnya dan Perginya: Sebuah Analisis

Novi Yulia

new-picture-2Karya sastra yang dapat dikategorikan karya besar yaitu karya yang berorientasi dan bernilai kepada menanusiakan manusia, dan mengungkapkan nilai-nilai kebenaran, walaupun dengan cara yang tersirat lewat indahnya kata-kata. Selain itu, bukan karya yang berusaha mengeksplor fisik (seksualitas, nafsu) belaka. Karya-karya yang mengekslorasi seksualitas (sastra pop) itu memang ada baiknya, setidaknya memberikan sex educations.

Minangkabau termasuk salah satu daerah yang memiliki sastrawan-sastrawan besar. Kebesaran itu diantaranya dinilai dari karya-karya yang mereka hasilkan. Misalnya roman “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli (1920), “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisyahbana (1936), Hamka dalam “Merantau ke Deli”, dan lain sebagainya.

Dari deretan nama ini kita tentu tidak bisa lupa dengan kebesaran AA. Navis. Dari berbagai karyanya, penulis saat ini tertarik menyingkap tabir dibalik karyanya yang berjudul “Datangnya dan Perginya” dalam bentuk cerpen “Robohnya Surau Kami”.

Para pembaca tentu sepakat kalau karya ini lahir sebagai upaya memanusiakan manusia. Karena nilai-nilai kemanusiaan yang diangkatnya diperlihatkan dalam dilema yang tragik antara memilih nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tokoh Aku mengalami goncangan batin yang mendalam setelah ditinggal meninggal oleh istrinya. Ia menjadi kehilangan semangat dan kedewasaan. Kelarutannya di dalam kesedihan menggiringnya untuk mencari pelarian yang kiranya mampu menjadi penyelesaian atau pengobat dari kesedihannya.

Ketidakstabilan emosionalnya itu membuatnya semakin larut ke dalam dunia maksiat. Kondisi keimanan yang lemah memperburuk keadaan, karena ia menjadi tidak mampu menahan kemarahan ketika perbuatannya dilihat oleh anaknya. Hal inilah yang melahirkan klimaksnya, dimana anak laki-lakinya, Masri, menikah dengan anak perempuannya, Arni. Anak perempuannya dari istrinya yang lain.

Pada dasarnya perkawinan bagi seorang perempuan tidak hanya untuk menjadi istri dan melahirkan anak-anak dari suaminya. Melainkan juga sebagai wakil kaum kerabatnya dalam hubungan perserikatan dua keluarga bersar. Sebagai wakil dari kerabatnya itu ia tidak bisa menentukan sikap sendiri terhadap suaminya.

Dalam budaya Minangkabau yang berazazkan kekeluargaan matrilinial, seorang laki-laki adalah pendatang di rumah istrinya. Tinggal dalam keluarga pihak istri, menjadi urang sumando di rumah istri yang menempatkannya sebagai orang yang dihormati, malah dimanjakan karena ia tidak terlalu dibebani dengan tanggung jawab keluarga. Mamak pada keluarga istri itulah yang berperan besar dalam menafkahi kemenaknnya.

Stelsel matrilineal dengan sistem kehidupan komunal seperti yang dianut suku bangsa Minangkabau, menempatkan urusan perkawinan menjadi persolan dan urusan kerabat, mulai dari mencari pasangan, membuat persetujuan, pertunanganan perkawinan, bahkan sampai segala urusan akibat perkawinan. Kondisi ini membuat hubungan suami istri tidak begitu kuat. Sehingga memberikan peluang yang besar bagi laki-laki untuk kawin lagi. Persoalan di atas dapat dilihat pada cerpen Navis ini, betapa mudahnya si Aku kawin cerai dengan beberapa perempuan setelah peremuan pertamanya. Tapi dampaknya?

Dalam masyarakat Minangkabau perkawinan sedarah itu merupakan perkawinan terlarang. Siapa yang melanggar hukum norma konvensional itu akan mendapat sangsinya, baik sosial maupun adat/agama. Pada dasarnya dalam ajaran agama Islam perkawinan sedarah (incest) sangat ditentang, dan kalau itu terjadi maka masyarakat akan mengusir pasangan itu dari kampung, dan perceraian adalah satu-satunya jalan penyelesaian.

Pentingnya Status

Dalam sistem kekerabatan matrilineal bisa dilihat betapa pentingnya status berdasarkan suku. Hubungan kekerabatan dilihat dari garis keturun ibu. Dengan kata lain satu garis keturunan berarti sesuku. Jika sesuku maka tidak boleh menikah. Sadar atau pun tidak, ketetapan ini membawa masyarakat Minangkabau untuk lebih hati-hati dalam berkenalan. Salah satu bentuk kehati-hatian itu adalah dengan saling mempertanyakan suku ketika berkenalan dengan orang lain. Mereka akan merasa dekat apabila kenalan itu memiliki suku yang sama dengannya.

Dalam “Datangnya dan perginya” pengarang ingin mengembalikan betapa pentinya status tersebut karena selama ini nilai-nilai itu ternyata mampu menjadi kontrol sosial di tengah kehidupan generasi muda khususnya. Cerpen ini mempertanyakan peranan suku di tengah kehidupan modern. Dalam masyarakat modern nilai-nilai ini sudah mulai ditinggalkan sehingga mengakibatkan sering terjadinya kedekatan yang tidak lazim, bahkan sampai menjadi suami istri antara sesuku, apalagi bersaudara sedarah.

Mempertanyakan Peranan Mamak dan Ulama

Ekstrimya, masyarakat Minangkabau menyadari bahwa yang bertanggung jawab atas segala kondisi kemenakan adalah mamak sebagai simbol kekuatan adat dan ulama sebagai lambang keberperanannya agama Islam sebagai agama satu-satunya yang dipercayai masyarakat.

Besarnya arus perantauan yang kemudian membangun keluarga–keluarga inti memudarkan peranan mamak, tapi meningkatkan peranan ayah. Kondisi ini menjadikan mulai tidak berjalannya beberapa tatanan adat Minangkabau.

Selanjutnya, ulama sebagai pemimpin agama yang berperan penting dalam menjaga dan membimbing umat agar tidak terjebak ke dalam kesalahan.

Maka jika terjadi kesalahan yang melanggar hukum agama yang akan dipertanyakan tentunya keberperanan ulama. Sebagai masyarakat yang mengaku fanatik dengan Islam mengapa masih terjadi kesalahan yang benar-benar fatal ini?

Hukum adat dan agama merupakan dasar pijakan strata dalam menjalankan kehidupan. Sehingga tokoh dalam cerpen ini berada pada posisi yang tragic, walaupun pada akhirnya ia memilih tuntutan rasa kemanusiaannya namun ia tetap dikungkung oleh perasaan berdosa.

Untuk itu Navis mengajarkan kepada kita, nilai dari setiap konsep adat dan agama pada dasarnya merupakan suatu pandangan yang bersifat filosofis, dan bertujuan mengangkat derajat manusia ke arah yang lebih baik.

Namun, tidak selamanya konsep kebenaran yang ditawarkan adat dan agama itu dapat berjalan sebagimana mestinya di masyarakat yang kompleks. Benturan dan konflik punya peluang besar dalam dialektik nilai itu.

Namun demikian, bukankan konflik dan dialektik itu menjadikan ranah Bundo Kanduang ini menjadi besar di masa lalu?[] volume 01 November 2008

1 Comment

Filed under Analisis Sastra

One response to “Datangnya dan Perginya: Sebuah Analisis

  1. basajan

    sae pisan ulasanna, teliti & tajam. hatur nuhun teh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s